Posted by: iwanbudi | August 22, 2008

“Apakah kamu pernah menjudge(menghakimi) orang padahal kamu sendiri tidak pernah mengenal orang itu?”

Pada saat kelas 4 SD,saya pernah berkelahi dengan teman saya. Pada saat kami diantar ke ruang guru, saya bertemu dengan seorang guru. Guru tersebut adalah guru prakarya(pelajaran semacam kerajinan seni) begitu.Guru itu menyapa wali kelas kami,”Ada apa Pak?”,lalu guru saya bilang,”berkelahi Pak”. Lalu saya kaget sekali waktu guru prakarya tersebut berkata,”Oh, memang anak ini(menunjuk saya) nakal ko Pak.”, seingat saya, saya tidak pernah berbuat kesalahan pada pelajaran guru ini, memang prestasi saya di bidang kesenian tidak bisa dibilang bagus namun apakah itu membuat saya sebagai “nakal”?

Ternyata ketenaran saya waktu itu sudah terkenal di ruang guru sejak kelas 1 SD. Waktu itu tubuh saya bongsor, benar2 pendiam,dan tidak banyak teman. Saya tidak suka bergaul.Walaupun saya banyak dikerjain oleh teman2 saya,  tanpa sadar entah bagaimana atribut “anak nakal, suka berkelahi, cerewet” melekat di saya. Rupanya hal itu menjadi perbincangan juga di antara guru, buktinya pada waktu saya masuk ke kelas 3 SD Wali kelas saya sudah menggolongkan saya sebagai anak nakal padahal sejak masuk kelas tidak ada 2 hari. Rupanya gosip dari guru ke guru itu benar2 menakutkan.Kejadian ini benar2 melekat pada ingatan saya.

Pada beberapa saat ini, saya memiliki pengalaman yang membuat saya teringat akan masa saya di masa SD. Ketika prestasi kami(saya dan teman2 yang ada di pelatihan untuk kerja di Jepang ini) tidak sesuai dengan yang diharapkan, kami dibilang tidak berusaha, tidak bekerja keras dibandingkan kenshuusei(sebutan untuk peserta pelatihan tersebut) yang lain. Saya sungguh kecewa pada saat ini. Saya akui, saya bukan tipe orang yang benar2 terlihat serius di kelas, saya sering bercanda dan sebagainya. Tapi hal itu bukan berarti saya tipe orang yang pemalas. Saya banyak juga belajar di kost.Sebagai orang teknik, bahasa merupakan hal yang tidak mudah bagi saya(bahasa Indonesia saya tidak pernah melebihi nilai 70). Mendengar komentar orang itu tentang usaha saya, saya benar2 kecewa.”Sou ka, omae ha souiu ningen ka” (Ah begitu rupanya, kamu orang yang tipe itu ternyata).Setelah kejadian itu saya benar2 tidak ada rasa menghargai orang itu lagi.

Saya tahu mungkin orang itu stress karena hasil kami tidak memuaskan. Namun setelah itu sikap dia terhadap kami benar2 berubah (atau itu memang sifat dia yang sebenarnya?). Pembandingan terhadap kenshuusei lain makin berlanjut dan saya pun sudah benar2 muak terhadap orang ini. Pada saat itu saya berkeras untuk tidak mempercayai siapapun kecuali teman2 saya.Pada saat terdapat pengajar baru, saya berusaha untuk tidak dekat dengan dia. Saya ajak makan dll memang, tapi itu formal, saya tidak mau menjadi terlalu dekat lagi, saya takut kejadian yang sama terulang lagi. Saya judge dia sama dengan pengajar yang sebelumnya.Saya pun tidak sadar bahwa saya sudah menjadi sama dengan guru prakarya saya yang waktu SD.

Kemarin ini, kami diajak makan(ditraktir) oleh pengajar baru tersebut. Pada waktu awal, saya pikir setelah makan dia akan mengomentari keterlambatan beberapa orang dari kami. Tapi yang mengejutkan adalah dia mengajak win win solution. Apa yang menurut Anda sebaiknya dilakukan agar suasana kelas membaik, apa yang menurut Anda dapat membuat prestasi Anda sendiri makin bagus.Dia mencoba bahasa Indonesia agar kami dapat enak berbicara meskipun saya tahu dia sendiri cukup kewalahan dengan bahasa Indonesia. Saya betul2 terkesan dengan hal ini.

Baru kali ini saya bertemu pengajar seperti ini. Saya pernah mengeluh pada salah satu pengajar saya yang sebelumnya tentang keluh kesah kami.”Semua tentangkamu, kami para pengajar yang paling tahu, kalo ada keluhan lapor sama pengurus aja”. Hal ini benar2 membuat saya muak! “kamu tidak tahu sapa saya, kamu seenaknya saja menanamkan image saya dalam pikiran kamu, saya jijik dengan cara itu,” begitulah suara hati saya waktu itu. Namun pada saat melihat pengajar yang baru ini saya benar2 merasa salut dan mulai merefleksikan kesalahan saya yang menjudge(menghakimi) pengajar baru tersebut hanya karena profesi kerjaan dan tempat asal.

Ketika kita kecewa dengan orang, secara tidak langsung kita perlindungan extra karena tidak mau dikecewakan lagi. ketika menemui orang yang serupa/sejenis (baik SARA ataupun jalan pemikiran) secara tidak sengaja terkadang kita menjudge bahwa orang tersebut punya sikap yang sama dan pasti dia akan mengecewakan kita lagi. Kita lupa bahwa mereka itu unik, tanpa hubungan yang dekat kita tidak boleh menjudge orang itu.Kesalahan saya hendaknya merupakan menjadi kesalahan saya sendiri, janganlah ada orang lain yang mengulangi kesalahan tersebut. Saat ini saya mulai membuka kepercayaan saya terhadap orang lain, selama saya belum tahu seperti apa orang tersebut saya bertekad untuk tidak menghakimi orang tersebut.


Responses

  1. Silakan kalo ada yang mau comment. Saya jujur bukan orang yang baek.元々人間は醜い生物だ。Kalau ada saran yang bisa buat saya improve ato punya pengalaman yang kurang lebih sama tolong tulis di coment. Temanya adalah soal menghakimi (handan) ya.
    Thanks

  2. emang lu wan, bukan orang baik lu wan!!! wahahahaha!!!

    be`canda, cuma mau intermezzo ^^

    seorang iwan yang humanis (apa coba??), rajin nulis keluh kesah susah senang suara hati di blog. jadi inget sama Peter Schmechel (ex kiper MU) yang pas jadi man of the match bilang “ada situasi yang berulang” jadi dia bisa mengantisipasi serangan lawan karena dia belajar. ya mirip lah sama jaringan syaraf tiruan (makin malem omongan makin ngaco^^;). intinya sih kita cuma megantisipasi kalo kalo ada kejadian yang mirip. tapi namanya manusia kan penuh kreatifitas, , sesuai pepatah cina yang mengatakan, “dont judge angpao by its envelope”, jadi yang bisa aja ternyata responnya beda beda, makanya kita butuh improvisasi di lapangan. yang ga bisa improvisasi biasanya dimasukin bangku cadangan sama pelatih(loh?? ngomongin apa sih??).

    masalah improvisasi, sebenernya bisa jadi hasil dari proses belajar untuk tidak mengulang hal yang sama itu lagi, sehingga pergerakan mudah terbaca bek lawan, kan gitu. makanya, sikap orang kan juga bisa berubah, seiring dengan berjalannya waktu karena tahu lawan nya ga seperti yang dia pikirkan (meskipun ada juga sih yang kepala batu, suka salah tingkah -udah salah bertingkah). jadi menurut gw sih berhati2 di awal ga selamanya salah.

    ya sekian lah komentar gw yang insignificant dan bisa di bulatkan ke atas atau ke bawah terserah kalian.

    btw, ada yang kontradiktif wan nih :

    “Sebagai orang teknik, bahasa merupakan hal yang mudah bagi saya(bahasa Indonesia saya tidak pernah melebihi nilai 70)”

    hehehe, salah nulis sih paling, cuma, gw paling demen deh suruh nyari kesalahan orang (pasang tampang licik n kejam) huehehehehehe!!!

    dah, makin error, dah ngantuk banget nih, met tidur deh semua n

    good luck!

  3. tq teng, bagian itu gw udah berkali2 edit tapi tetep balik juga >..<
    Yahhh setidaknya bisa dimengerti ^^

  4. wan, don’t be too hard on yourself.

    setiap orang mau ga mau pasti punya judgement pertama terhadap orang yg diketemui, soal ternyata judgement itu bener ato engga, jikan ni tsurete baru akan ketauan kan. that’s how people are, jgn terlalu dipikirin ^^

    PS. denger cerita iwan gw jd salut sm sato sensei… kasian jg sih, he gets to clean up fct’s mess…

  5. or to be exact kabe`s mess?
    yg disebut iwan khan kabe..

    sato sensei angai ni pinter yah ^^

    talking from the perspective of someone who has bad habit of quick judging (yes i actually am), memang org2 ky kami ini inexcusably wrong. g akui itu, bukan dr pikiran tp karena kesalahan2 masa lalu yg g terima akibat bad habit g ini, for example miss judgement, wrongly accused ppl etc etc. i had my awakening, n masi memperbaiki diri sampai sekarang. dan mudah2an aja kabe ngerti jg hal ini sooner or later.

  6. fct.. kabe.. 22nya seh gw bilang.

  7. Gw ga sebutin nama guru/orang yang bersangkutan ya >.< yang bisa tebak silakan tebak2 sendiri sih😛
    Karena tujuannya nulis tulisan ini bukan untuk saling adu siapa yang salah ok ^^.

  8. iiyo, enryou suru koto mo nai shi…

  9. wahahahaha
    iwan kasian bgd c
    emang tampangmu mirip preman kan?
    auauahua
    nantene…

    tp asik koq ngejudge orang, apalg yg bru kita kenal
    kadang bangga jg soalnya kalo ternyata emang dia bener kek ap yg kta kira
    hahaha
    serasa pny indra ke 7 gitu

    lagian dia bertindak kek gt bisa jadi jg gara2 orang d sekitarnya jg seperti itu

    apalagi guru kan maona d anggep yg maha tau, pa lg yg uda tua, ga mao di debat, aku ampe pusing ngadepin dosen yg udah tua..jadi stres sendiri dah

    demo, ganbatte ne
    kalo ktemu orng yg ga suka kamu ya trima aja
    tp kalo ad yg suka ya d balas
    yg penting positip tingking lah
    tar pasti banyak disukai orang^^
    ne..

  10. Ahahahaha thanks atas nasihatnya ^^.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: