Posted by: idJoe™ | May 11, 2009

Pengalaman Menjadi Gelandangan (Homeless) di Jepang

Pernah baca atau nonton, atau dengar cerita tentang “Homeless Chuugakusei“?
Nah, kali ini gw akan bercerita pengalaman pertama gw jadi gelandangan di Jepang. Lebih tepatnya di HOKKAIDO!! Mengapa, dan bagaimana gw bisa sampai jadi gelandangan? Dan terlebih lagi, mengapa gw bisa sampai nyasar ke wilayah utara negeri ini? Mari gw ceritakan.

Pada tanggal 27 April yang lalu gw mendapat email yang isinya undangan untuk mengikuti test dan interview pada tanggal 8 Mei (Jumat) di perusahaan yang bernama Research Business Park, yang berlokasi di kota Eniwa, tidak jauh dari Sapporo, Ibukota Hokkaido. (Informasi mengenai perusahaan ini bisa dilihat di http://www.rbp.co.jp) Gw senang sekaligus bingung, pergi atau ngga ya… pengen coba, tapi biaya gede. Naik kereta sekali jalan 25 ribu yen, pulang pergi udah 50 ribu yen. Klo gw pikir-pikir lagi, mahal amat!! Setelah konsultasi dengan Shun-chan (aka. Tawil) akhirnya gw putuskan untuk pergi!! Tapi bukan dengan kereta api, melainkan dengan pesawat, yang ternyata jauh lebih murah. Pulang pergi “cuma” 31.600 yen. Dan untungnya, Eniwa terletak tidak jauh dari Bandara Chitose (Nama Bandara untuk Sapporo, bisa disamakan dengan Bandara Cengkareng untuk Jkt).

Karena proses interview dimulai jam 10 pagi, mau ga mau gw harus berangkat satu hari sebelumnya dan menginap di sana. Nah, perusahaan ini mempunyai tempat penginapan di dalam gedungnya, dengan biaya khusus untuk peserta interview “hanya” 3.500 yen semalam. Harga biasanya 5.300 yen semalam. (Tinggal balik 2 digit depannya… hehehe). Gw pada awalnya mem-booking kamar selama 2 malam, karena pada awalnya proses interview diperkirakan akan berakhir jam 4 sore. Dan pada hari kedatangan gw ke sana, masih demikian.

Interview D-Day – 1
Gw tiba di Eniwa, turun di eki (stasiun) Megumino. Daerah ini benar2 sepi. Bagi mereka yang pernah atau sedang tinggal di Tenryuugawa, Megumino jauh lebih sepi!! Dari eki gw berjalan kaki sekitar 15 menit menuju kantor RBP. Jalanan di sana dan rata2 kota di Hokkaido lainnya relatif simple (lurus dan lurus dan lurus…..), jadi gw sampai dengan selamat dan tidak tersesat. Setelah proses administrasi selesai gw bisa menginap. O, iya, penginapannya bayar di muka, tapi hitungannya per-hari. Jadi gw harus bayar 3.500 yen dulu. Tempatnya lumayan enak. (Yang mau tau seperti apa bangunannya, nanti lihat di facebook. Akan gw upload koq).

Interview D-Day
Malam yang menyenangkan lewat sudah. Pagi-pagi gw dibangunkan oleh kicauan burung dan terangnya langit pada pukul 5 pagi. (Sebenarnya jam 4 pagi langit sudah terang benderang lho. Jam 4.30 kurang matahari sudah terbit!) Peserta Interview dan test ada 15 orang, dan gw dapet giliran pertama untuk interview. Jadi, gw selesai interview jam 2 siang kurang. Setelah gw pikir-pikir, gw ingin jalan2 ke Sapporo, dan akhirnya penginapan hari ke-2 gw batalkan. Gw mau mencoba berpetualang!! hehehe

Akhirnya, gw sampai di Sapporo. Karena perut lapar, gw pergi ke Seven Eleven terdekat dari eki untuk beli Soba dingin, dan makan di depannya. Yang parah: Kombini di Sapporo ga menyediakan tempat sampah! Gw pergi ke Sunkus, juga ga nemu yang namanya tempat sampah. Untungnya di eki ada tempat sampah. Tasukatta!!! Setelah keliling-keliling di Sapporo, mengunjungi Clock Tower yang terkenal (meskipun sayangnya udah kesorean, jadi ga bisa masuk ke dalam), ketemu homelss lain di taman Oodori di Sapporo, dan melihat-lihat air mancur, gw memutuskan untuk ke bandara jam 7.30 lewat dikit. Takut ketinggalan Shuuden. Eh, ternyata dari Sapporo ke Bandara Chitose cuma sekitar 30 menitan. Jadi jam 8 lewat 16 udah nyampe. Sial! Terlalu cepat, mending lanjutin jalan-jalan tadi… pikir gw. Tapi ongkos ke sana mahal! 1040 yen. Jadi ya… terpaksa dari jam segitu berkeliling di Bandara.

Pukul 21.00~
Perut sudah mulai minta diisi lagi. Di bandara ada Lawson, yang terkenal sebagai Kombini yang ada di mana-mana (Bahkan di gedung RBP, Lawson adalah salah satu penyewa ruangan di sana). Tapi yang membuat kecewa dan sangat menyengsarakan: Lawson di situ tutup sebelum jam 9! Alamak!!! Terus gw lihat ada Ramen-ya. Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh malam. Waktu gw ke sana, masih ada orang yang makan di dalam, tapi di depannya terpampang tulisan TUTUP. OMG! Akhirnya gw ke Jidouhanbaiki dan beli minuman hangat.

Pukul 23.00 ~
Bandara tutup. Ya! Bandara TUTUP. Dan gw terpaksa tinggal di luar, di halte bus bandara. Gw duduk di bangku dekat halte itu. Dan ketika bus terakhir akan berangkat, dan petugas bandara masih lihat gw duduk2 dengan santainya, dia tanya: “Kamu ga naik bus?”. Gw jawab, “ngga, saya berangkat besok koq”. “O, jadi ga naik bus ya?”, kata dia, lalu ke sopir bus “Sudah, jalan!”. Btw, gw beli tiket pesawat PP dengan tanggal pulang 9 Mei jam 10 pagi.

Berikut ini foto tempat duduk di mana gw menghabiskan malam terakhir di Hokkaido.
Tempat Tidur Gua

Pukul 00.00 dini hari ~
Gw mulai bosan sendirian. Orang-orang sudah mulai berkurang dan menghilang entah ke mana. Hanya taksi-taksi yang kadang masih bersliweran di lintasan bus, mencari mangsa penumpang yang datang kemalaman. Dan tiap kali mereka melihat gw, pasti mereka memperlambat laju taksinya dan berharap gw naik. Gw keluarkan kamera gw dan mulai berfoto-foto ria….. Sebagai dokumentasi hal yang pertama gw foto adalah Papan jadwal keberangkatan Bus ke Sapporo.
Jadwal Keberangkatan Bus dari Bandara Chitose ke Sapporo

Pukul 01.30 ~
Gw sempat tidur berbantalkan tas punggung gw yang besar, tapi sangat tidak nyaman. Temperatur udara yang mencapai di bawah 10 derajat celcius membuat gw menggigil kedinginan. Bahkan menembus bagian bawah sepatu yang sudah gw ikat rapat2. Yang paling parah, gw kebelet kencing! Dan toilet hanya ada di dalam bandara, yang sudah tutup dua jam sebelumnya. Terpaksalah gw memakai toilet darurat. Untung di situ ada tempat sampah untuk jidouhanbaiki, dan akhirnya gw menemukan botol kosong. Itulah yang jadi toilet darurat gw. Karena udara yang begitu dingin, gw mengisi penuh dua botol minuman bekas. Satu Woolongcha, dan satu lagi botol Kaleng MinuteMaid seukuran Futte-futte. Hohoho.

Berikut foto toilet darurat yang telah menyelamatkan gw pada malam itu…..
Toilet Darurat

Setelah bosan foto sana foto sini, gw mencoba menggunakan fasilitas self-portrait, alias memotret diri sendiri dengan timer. Setelah berhasil menyettingnya, akhirnya gw bisa juga membuat dokumentasi petualangan gila ini. Ini foto jepretan dengan timer…
Gua Lagi Berfoto di Bandara yang sepi

Pukul 4.00
Setelah sempat tertidur, akhirnya gw terbangun. Gila, langit bener2 terang. Akhirnya gw putuskan untuk bangun dan berkeliling di sekitar bandara. Mumpung masih belum ada orang, pikir gw. Setelah jalan ke sana kemari dan berhasil memfoto gunung2 Hokkaido dari jauh di pagi hari gw kembali ke bandara jam 6.30. Gosok gigi, cuci muka, dan ah….. melepaskan air dalam kandung kemih dengan lebih lega. Ga perlu sembunyi-sembunyi seperti beberapa jam sebelumnya.

JAM 10.00 Pagi
Akhirnya, gw naik pesawat kembali ke Tokyo, dan merasakan panasnya udara Ibukota. Berakhir juga petualangan gila ini… Tapi gw bisa bangga, karena gw adalah orang (ex)FCT pertama yang bener2 menjadi gelandangan, meskipun hanya semalam. Dan gw tidak bermalam di tempat karaoke (yang masih bisa dibilang semi-homeless).

Ada yang mau coba dan mengikuti petualangan yang rada gila ini?


Responses

  1. aahahahaha.
    gokil!!!!!

    komen 1 aja yo, I TOLD YOU SO. IUTTA DESHO.
    narita aja tutup kok…. apalagi chitose. sorenya g dah ngmg kan??

    dia kencing di botol… OMG

    • wakakakkaaka😄

      kencing di botol. kebayang golden showernya di salah satu pideonya miyabi. btw teman rendy pernah ketemu/makan bareng maria ozawa.

      • pengen kenalannn hiks..

  2. damn!
    seruuu

    petualang sejati!

    knapa gak nginep di taman bosss?!

  3. ancur!!!! mantap!!!!

    all personnel, hail idjoe!!!!
    mantap jo!!!! salut abis…

  4. ampon kakakkkkkk

    salut salut

    ohohohoho……

  5. @shun: waduh, mau dunk ikutan. kok ga ajak2? wah, kudu foto2 tuh….

    • minta sama rendy dong. saya tak kenal. ^^;

  6. idjoe: ini judulnya homeless tenshokusei ya.

  7. swt… hebat yoooo, gak nyangka…
    gw kan udah denger ceritanya dr loe n evan tawil, tp pas baca detailsnya baru kebayang seberapa parahnya, huahaha.. seru jg, kalo gw mah dah pasti nangis bombay. mantap yo! bisa jadi bekel buat diceritain ke cucu, hihi..

  8. kalo waktu nelp yah, g nangkep kesannya dia keknya udah emang bermaksud buat jadi homeless dr awal… dasar edan.

  9. kalo di indo ada resiko di sodo** ama gelandangan yang asli tuh… don’t try this at indonesia ^^

    • please try at parunk yah…

  10. Waktu gw nelpon loe van, gw benernya mau nginep di Oodori kouen di Sapporo. Bahkan malam sebelumnya gw malah mencari-cari taman terdekat dari Eniwa. Tapi setelah keputusan yang tergesa-gesa, akhirnya gw jadinya nginap di bandara. Lain kali gw mau jalan-jalan pake kereta dan nginap di stasiun…. hohohoh. Kalau stasiun gitu ga ada jam tutupnya kan? Kalau ternyata tutup juga, ya sudah… terpaksa cari kouen terdekat.

  11. O, iya. Yang Mau lihat foto2 Hokkaido secara lengkap silakan akses FB y….

  12. wakakakakka najis si parunk, btw untung ga fuyu ya. Kalo fuyu bisa mohek tuh dingin banget pasti di hokkaido.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: